Kamis, 14 Maret 2013

TEST TOEFL

Karena dorongan kebutuhan untuk mengikuti test penerimaan beasiswa S2 di Universitas Pertahanan Indonesia dimana salah satu materi test nya adalah TOEFL, saya mencoba mengukur kemampuan TOEFL saya. Untuk melaksanakan keinginan tersebut saya melakukan pendaftaran sekaligus Test di hari yang sama pada hari Kamis 28 Februari 2013 di LIA Grogol. Sebelum mengikuti test TOEFL secara mandiri saya sudah melakukan latihan/simulasi melalui buku-buku antara lain Bank Soal dan Simulasi TOEFL (Muhammad Yusdi-Ispirata).
Secara umum gambaran Test TOEFL yang dilaksanakan di institusi LIA sebagai berikut. Pelaksanaan test TOEFL PBT dilaksanakan 2 (dua) kali seminggu pada hari Senin dan Kamis dimulai jam 09.30 WIB. Apabila sebelumnya kita belum melakukan pendaftaran sebaiknya datang lebih awal untuk registrasi terlebih dahulu. Biaya registrasinya adalah sebesar Rp.225.000,- / test. Pada saat registrasi kita akan diminta fotocopi tanda pengenal diri bisa KTP, SIM atau Paspor kalau untuk pelajar/mahasiswa bisa melampirkan fotocopi kartu pelajar/mahasiswa. Sebelum melakukan test persiapkan dulu perlengkapan tempur kita yaitu pensil 2B, penghapus dan rautan untuk jaga-jaga sebaiknya bawa pensil 2 buah. Pukul 09.15 WIB, peserta test sudah dipersilahkan untuk memasuki ruangan dengan 12 kursi kuliah (kursi yang ada mejanya) didalamnya, saya pun memilih tempat duduk dibagian sisi kanan baris ke dua. Didalam ruangan sudah ada petugas perempuan yang mempersilahkan peserta untuk duduk dan menyiapkan tanda pengenal diri dan bukti pembayaran registrasi. Sebelum tes dimulai petugas ini melakukan pemeriksaan satu persatu terhadap peserta dengan mencocokan foto pada tanda pengenal dan bukti pembayaran. Apabila ada keraguan terhadap peserta tidak segan-segan peserta tersebut akan dikeluarkan dari ruangan tes. Sambil melakukan pemeriksaan tersebut petugas tersebut mempersilahkan kepada peserta yang akan ke kamar kecil atau keperluan lain terlebih dahulu karena apabila test tengah berlangsung seluruh peserta dilarang meninggalkan ruangan dengan alasan apapun, dan apabila tetap ada peserta yang terpaksa keluar ruangan pada saat test maka tidak akan diperkenankan masuk ke ruangan test lagi. Akhirnya lembar jawaban pun dibagikan kepada peserta setelah sebelumnya diminta kepada semua peserta untuk mematikan HP (bukan silent) dan hanya menaruh alat tulis di atas meja (pensil 2B, penghapus dan rautan). Lembar jawaban tersebut harus diisi dengan Nama kita, tanggal tes,no soal. Selesai mengisi lembar jawaban akhirnya dibagikan buku soal dengan kode A dan B, soal test ini berbeda antara peserta yang satu dengan yang lain secara bersilangan. Dari buku soal yang dibagikan tersebut terdiri dari Section 1. Listening Comprehension terdiri dari 50 soal dengan waktu 40 menit, Section 2. Structure dan Written Expression dengan jumlah soal 40 soal dengan waktu 25 menit dan Section 3. Reading Comprehension dengan jumlah soal 50 soal dengan waktu 55 menit. Akhirnya sayapun mengerjakan soal satu persatu secara bertahap sesuai dengan intruksi yang diberikan.
Alhamdulillah saya bisa mengerjakan sebagian besar soal meskipun ada beberapa soal yang menggunakan perhitungan kancing (asal tebak) karena keterbatasan waktu ataupun karena kurang konsentrasi pada saat mendengarkan Section 1. Setelah selesai test seluruh peserta dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan test dengan informasi bahwa hasil test bisa diambil dalam waktu minimal 3 hari kedepan.
Tiba pada hari pengambilan hasil test akhirnya saya pun pergi ke LIA Grogol dengan perasaan harap-harap cemas. Begitu memegang amplop tertutup hasil test saya pun tidak sabar untuk membukanya, begitu tertegun saya begitu hasilnya mencapai Skor 489 (Intermediete) kenapa tidak mencapai 500 sesuai harapan minimal saya padahal hanya selisih 11 poin. Tetapi akhirnya saya tetap bersyukur sambil berkomitmen untuk berusaha kembali untuk mencapai skor yang diinginkan. Keep Fight.

Senin, 11 Maret 2013

Journey to Borneo

Begitu mendengar perjalanan ke Kalimantan ingatanku langsung menyeruak kembali ke masa lalu disaat pertama kalinya aku menjejakan kaki di bumi mandau ini. Saat itu aku masih siswa kls 3 sebuah sekolah kehutanan di jawabarat. Pengalaman menyusuri belantara kalimantan seolah menjadi magnet penarik rindunya perasaan untuk kembali kesana. Kali ini tempat yang akan aku kunjungi adalah Balikpapan!!! Oh my God sesuatu hal yang razanya tidak mungkin kubayangkan... Perjalanan Jayapura Balikpapan ditempuh ± 10 jam dengan transit di Makassar dan Jakarta, perjalanan yang melelahkan untuk sebuah perjalanan rute domestik. Waktu menunjukkan pukul 17.55 WITA saat Lion 900ER LNI766 mulai landing di Bandara Sepinggan Balikpapan. Langit mendung gerimis perlahan turun suasana senja menambah nuansa magis yang langsung menyergap. Setapak-demi setapak kuturuni tangga pesawat, akhirnya kujejakan kembali kaki ku di Borneo ini. Ruang kedatangan seolah sudah menunggu kedatangan ku dengan rombongan. Hilir mudik penumpang yang datang dari berbagai tujuan mewarnai pemandangan sore itu seolah ingin menunjukan bahwa sdh sepantasnya Sepinggan disebut bandara internasional. Setiap hari sang Garuda saja 5 kali menjejakan sayapnyadisini belum lagi Lion, Sriwijaya, Batavia dan Merpati. Tak tahan menahan pipis mampirlah aku ke toilet, dan tak kuheran jika kebersihannya jauh lebih bersih dibanding bandara Sentani Jayapura yang ibaratnya orang mau pipis pun harus bawa pispot dari rumah. Perlintasan bagasi mulai berputar, satu persatu penumpang mulai mengambil barang masing-masing. Lima belas menit, setengah jam, sejam sudah berlalu sampai mesin perlintasan bagasi berhenti barang-barang kami tidak ada !!! Dengan perasaan dongkol aku pun melapor ke bagian lost and found Lion, Mas Djoko namanya orang yang menerima laporan kami setelah mencatat jenis tas, merk dan setelah saling bertukar nomor HP dia menjanjikan akan menelpon jika barangnya sudah datang. Yang jadi masalah baju ganti dan oleh-oleh ada di tas-tas tersebut, tapi kami terpaksa harus pasrah. Perjalanan kami masih berlanjut malam inipun kami harus ke Samarinda karena besoknya harus melapor ke instansi kehutanan setempat. (

Wellcome to Jayapura

Untuk sampai di Jayapura ibukota Provinsi Papua kita bisa menempuh jalur udara dan laut, melalui jalur laut waktu tempuh Jakarta – Jayapura kurang lebih 7 hari perjalanan dengan melewati/transit di beberapa kota di perairan Nusantara tergantung pada rute kapal yang kita tumpangi. Dalam sebulan 4 (empat) kali kapal Pelni berlabuh di Kota Jayapura, orang di Papua lebih senang dengan menyebut dengan sebutan “Kapal Putih” karena dominan kapal Pelni memang berwarna putih. Untuk traveller yang menyenangi perjalanan laut dengan melintasi kota-kota di jalur nusantara, kapal putih merupakan alternatif yang sangat menyenangkan, karena kalau mau diukur dari sisi ekonomis terkadang naik pesawat bisa lebih murah. Melalui jalur udara kita dilayani beberapa maskapai penerbangan antara lain Garuda, Lion Air, Batavia Air, Expres Air dan maskapai penerbangan pelat merah tertua Merpati Nusantara. Pintu masuk utama ke Jayapura dari semua kota di luar Papua adalah Makasar karena semua maskapai penerbangan yang menuju ke Jayapura pasti transit di kota angin mamiri tersebut. Setelah melewati Makassar jalur perjalanan ke Jayapura terbagi ke tiga tujuan ada yang melalui Biak-Jayapura, Sorong-Manokwari-Jayapura, Timika-Jayapura. Tetapi beberapa maskapai seperti Lion Air dan Garuda melayani penerbangan langsung Jakarta-Makasar-Jayapura. Apabila kita ingin menikmati indahnya hutan hujan tropis terbesar di Indonesia melalui udara sebaiknya kita mengambil penerbangan malam dari Jakarta, rata-rata waktu penerbangan Jakarta-Jayapura antara 7-8 jam sehingga jika menggunakan penerbangan malam maka pagi hari kita sudah bisa tiba di Jayapura. Menjelang tiba di Jayapura di pagi hari itulah dari pesawat kita biasanya kita disuguhi pemandangan menakjubkan hamparan rimbunan pepohonan laksana permadani hijau terhampar di bawah kita. Tiga puluh menit menjelang pendaratan kita akan melayang di atas danau Sentani dan pegunungan Cagar Alam Cyclop, pesawat akan berputar mengelilingi danau mencari angle yang tepat bersiap untuk landing. Disaat seperti itu adalah momen yang tepat jika kita ingin mengambil gambar keindahan danau Sentani dan pegunungan Cyclop. Danau Sentani dianggap penting, karena posisinya yang strategis terletak dalam lintas wilayah adminitrasi Kabupaten Jayapura 49%, Kota Jayapura 44% dan sebagian kecil masuk dalam wilayah Kabupaten Keerom 7% dengan luas mencapai 77.682 hektar. Begitu pesawat kita mendarat di Bandara Sentani, sesaat kita memasuki ruang tunggu bagi yang baru pertama kali berkunjung di Jayapura pasti heran, karena kalau di daerah lain di area publik biasanya terpampang poster “DILARANG MEROKOK” tetapi di Bandara Sentani yang akan banyak kita temui adalah “DILARANG MAKAN PINANG”. Kebiasaan masyarakat Papua mengkonsumsi buah pinang sedikit banyaknya membawa budaya negatif membuang ludang pinang sembarangan yang dilakukan sebagian orang. Kalau barang bawaan kita banyak kita harus sudah siap-siap merogoh sedikit kocek lebih buat porter/buruh untuk membantu mengangkat barang kita, karena tidak seperti di bandara-bandara lain trolly/kereta dorong yang disediakan pihak pengelola bandara semuanya dikuasai para porter/buruh jadi anda jangan berharap mendapat trolly secara gratis. Angkutan dari Bandara Sentani menuju kota Jayapura berupa taksi banyak tersedia di bandara pelataran yang biasanya menggunakan mobil Toyota Avanza berwarna coklat. Jika tujuan kita kota Jayapura tarif yang ditentukan biasanya sekitar dua ratus ribu rupiah sekali jalan. JIka anda sebelum tiba di Jayapura sudah melakukan reservasi hotel di Jayapura rasanya tidak akan kesulitan karena semua driver taksi bandara sudah mengenal hotel-hotel yang ada di Jayapura. Tetapi jika anda belum memiliki gambaran hotel tempat anda akan menginap di Jayapura sendiri sudah tersedia 2 hotel berbintang 4 yaitu Aston Hotel dan Swiss Bell Hotel, 3 hotel bintang 3 yaitu hotel Yasmin, Hotel Matoa dan Hotel Relat serta masih banyak hotel-hotel kelas-kelas di bawahnya dan hotel-hotel kelas Melati lainnya. Tetapi jika anda bepergian di kurun waktu di akhir tahun antara November atau Desember sebaiknya memang terlebih dahulu melakukan reservasi karena biasanya hotel-hotel tersebut penuh /full booked dengan event-event yang diselenggarakan instansi pemerintah. Perjalanan Bandara Sentani Jayapura apabila jalanan sepi bisa ditempuh 30-45 menit, tetapi pada saat jam sibuk bisa 1 jam lebih kita baru tiba di Jayapura. Lima belas menit pertama perjalanan kita dari bandara akan melewati jalanan sepanjang danau Sentani, pada beberapa tempat di sekitar danau apabila kita tiba sore hari kita dapat menikmati indahnya sunset dari pinggir danau. Setelah itu kita akan memasuki daerah Waena didaerah ini pemukiman agak padat sehingga pada jam-jam tertentu sering macet terutama di lampu merah Waena karena bisa dikatakan inilah lampu merah terkacau di Jayapura karena kendaraan biasa menerobos lampu merah dengan seenaknya. Selepas dari Waena kita akan memasuki daerah Abepura, Abepura adalah salah satu distrik di Kotamadya Jayapura sebutan kecamatan di Papua lebih dikenal dengan istilah Distrik. Abepura merupakan kota distrik yang bisa dikatakan kota satelit mandiri karena di daerah ini banyak terdapat perumahan, fasilitas umum, kantor pemerintahan, mall, food court, lembaga-lembaga pendidikan. Lepas dari Abepura kita akan menapaki perjalanan sekitar 5 menit di daerah perbukitan yang dikenal dengan sebutan skyline karena jalan ini berputar mendaki perbukitan dimulai dari daerah Kotaraja dan berakhir di Entrop. Disepanjang jalur skyline banyak terdapat warung-warung kelapa muda di pinggir jalan karena jalanan ini berada didaerah ketinggian dengan pemandangan indah mengarah ke teluk Youtefa, kelelahan perjalanan kita akan sedikit terobati dengan pemandangan yang tersaji yang begitu luar biasa. Paling lama 10 menit dari skyline kita sudah bisa tiba di Jayapura, dengan 2 jalur alternative dari Entrop kea rah Jayapura yaitu jalur atas melalui Polimak dan jalur bawah melalui Hamadi dan Argapura. Untuk perjalanan panjang yang melelahkan dari Jakarta sampai dengan Jayapura rasanya akan tidak rugi jika anda memilih hotel yang penulis rekomendasikan yaitu Swiss Bell Hotel. Keunggulan hotel ini adalah berada di pinggir laut, dengan pemandangan menghadap teluk Jayapura dan dilengkapi dengan kolam renang dan fitness centre. JIka waktu stay kita di Jayapura tidak terlalu lama sebaiknya kita merencanakan kunjungan kita ke beberapa tempat di Jayapura dengan baik. Beberapa alternative tempat wisata yang ada di Jayapura akan kita ulas di tulisan berikutnya. Welcome to Jayapura….

Tuhan Membimbingku Pagi ini

Jam 4.30 alarm berbunyi, alhamdullilah hari ini Tuhan masih memberiku kesempatan bernapas. Bergegas aku bangun untuk menunaikan panggilan Nya di pagi hari. Semangat ku pagi ini karena tiba saatnya bergowes ke kantor. Kupersiapkan segala keperluan untuk berkendara di pagi hari, safety first tentunya harus slalu diperhatikan. Setelah kukeluarkan sepeda kumenatap langit, Tuhan bimbing aku dijalanan Jakarta pagi ini. Jalanan masih nampak basah sisa hujan semalam. Mulai kukayuh sepeda ku keluar dari rumahku di Jelambar menuju kantor ku di Slipi.Jalanan masih sepi karena jam masih menunjukan pukul 5.00 tapi, kendaraan lain berlari bak kesetanan. Ekstra hati2 meski jalanan sepi. Grogol kulewati, Univ Trisakti, Tomang semua lancer sejauh ini. Setelah melewati hotel Twin Plaza lalu lintas Nampak mulai ramai, masih pagi-pagi begini kenapa kendaraan lain Nampak terburu-buru, meskipun rasanya sepeda ini jalannya sudah berada paling kiri jalan tetap saja klakson dari belakang memekakan telinga. "Silahkan Pak Bu kalo mau mendahului ga usah tat tit tut tuh begitu toh sepeda ini hanya memakan 1/10 jalanan inipun tidak" kataku dalam hati. Tiba lampu merah Slipi, tidak kuambil jalur flyover tapi kupilih underpass, untuk mempersingkat jalur. Akhirnya ku pun kantor ku tiba di tengah disambut rimbunan pohon dan kicauan burung di lingkungan kantor ku yang tetap asri Manggala Wanabakti. Selamat Pagi Dunia.

Minggu, 03 Maret 2013

Ada cinta ini

Ada cinta ini,... Apakah kamu tidak pernah menyadari, apa yang kulakukn semua hanya untukmu? Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya diri ini dan nyawapun pun rela kuberikan untuk mu? Mungkinkah kita sudah terbelenggu dalam rutinitas kita sehingga kita telah melupakan mimpi-mimpi indah kita janji2 kita,... aku masih mampu terjaga dan aku masih bertahan karena aku masih percaya masih ada cinta ini yang menjaga mimpi-mimpi kita...

Ketika Harus Pulang

Entah perasaan apa yang terus berkecamuk didalam diri ini, apa yang telah kulakukan selama ini ? apakah yang kubuat telah membuat bahaiia orang2 yang menyayangiku (bukan orang yang kusayang karena orang yang kusayang belum tentu dia menyayangiku)... Dalam usia seperti ini pun kadang aku merasa tidak sadar sudah menginjak kepala 3+, munkgin karena anak2 yang jauh dariku,.. terkadang kupikir seperti apakah aku dalam pikiran mereka,.. sudah kah aku menjadi figur ayah yang baik ayah yang bertanggung jawab,.. karena aku merasa tanggung jawab yang sudah kuerikan hanya sebatas materi sebatas doa, dimanakah aku disaat mereka membutuhkan aku secara fisikly??? Terus terang aku sudah muak dengan apa yang kujalani saat ini, sudah muak dengan orang2 yang bisanya hanya menghujat hanya bisa melihat dari luar,.. tidak kah mereka membayanngkan kalo apa yang uperbuat semata2 demi kebaikan semua hanya semata2 demi kemajuan semua, tapi semua itu tidak pernah berharga dimata mereka,... Untuk apa lagi aku bertahan dengan mkondisi seperti ini, dengan semua pengorbanan yang telah kuberikan tapi apa yang kudapat>?>. Kali ini aku harus percaya, sudah saatnya aku pulang,.. aku ingin dekat anak2ku dekat disaat mereka membutuhkanku, ingin aku ada disaat mereka menangis disaat mereka tertawa, aku ingin melihat mereka tumbuh dewasa di dekapanku.. Ayah pulang anakku,... 30 Juni 2011