Minggu, 05 Februari 2017

Aku rindu anakku

Aku rindu anakku yang tak mampu kurengkuh dalam palung dadaku
Aku hanya bisa menyebutmu dalam diamku,
menangisku akan dirimu saat tak ada lenganku dalam sedihmu, saat tak ada pelukan sang ibu dalam rindumu
Salahku padamu dosaku padamu membiarkan memar dalam balutan hidupmu
Aku rindu kamu anakku

Rabu, 17 Agustus 2016

Mengambil Berkah dari Sistem Error Check In Garuda

Pada perjalanan kali ini saya mengunjungi kota Medan dalam rangka tugas, seperti biasa sebelum berangkat tiket sudah disediakan oleh kantor dengan kelas tertinggi (Y Class) dengan maksud supaya gampang direschedule kalo ada perubahan dan tentunya dengan system pembiayaan real cost hal ini sah-sah saja sepanjang dapat dipertanggungjawabkan dari sisi keuangan. Keberangkatan dari Jakarta menggunakan Garuda Nomor Flight GA 146 jam 12.00 WIB, perjalanan Jakarta-Medan ditempuh dalam waktu kurang lebih 2,5 jam. Perjalanan menjadi tidak terasa karena saya tertidur sepanjang perjalanan dan hanya diselingi hidangan makan oleh kru Garuda. Setibanya di Medan jam 14.30 sudah ada yang menjemput perwakilan perusahaan yang akan saya datangi. Saya pun menuju tempat-tempat yang sudah direncanakan sebelumnya dan setelah selesai melaksanakan tugas langsung menuju Hotel Grand Antares untuk beristirahat. Tiba waktu malam, setelah selesai makan malam saya pun bergegasuntuk beristirahat karena besok paginya jam 05.15 saya harus kembali ke Jakarta. Saya mencoba tidur lebih awal setelah memesan call morning jam 03.00 ke Receptionist.Jam 03.00 alarm di Galaxy Note saya berbunyi tidak lama berselang telepon kamar berbunyi, receptionis memberitahukan pesanan call morning saya. Setelah mandi saya pun bersiap-siap untuk berangkat ke airport, karena waktu masih menunjukan pukul 03.30 saya pun menyalakan televise sambil menunggu jam 04.00 untuk turun ke lobi. Di televisi SCTV sedang menyiarkan pertandingan liga Champion live antara Barcelona vs PSG Saint German, sungguh sayang buat dilewatkan tetapi karena belum memesan taksi dan check out hotel akhirnya dengan terpaksa pertandingan ini dilewatkan dan informasi terakhir yang saya dapat pertandingan berakhir seri 2-2. Setelah menyelesaikan administrasi hotel dan memesan taksi akhirnya sayapun meluncur ke Airport setibanya di airport berbekal kode booking saya pun mencetak tiket di counter Garuda. Dengan tiket di tangan dan GFF Gold Card saya melapor di bagian pasasi Garuda. Antrian tidak terlalu panjang sehingga tidak membutuhan waktu lama untuk check in. Saya memesan kursi dibagian lorong seperti biasa dengan pertimbangan mudah untuk ke kamar kecil tanpa mengganggu orang yang duduk di sebelah. Saya ditawari untuk duduk di Emergecy seat 15C, bolehlah saya pikir karena biasanya kursi ini lebih luas. Setelah prosedur boarding dilewati saya sengaja mengantri dibagian depan agar bisa lebih dulu masuk ke pesawat. Di dalam pesawat saya pun duduk di kursi 15C sesuai boarding pass. Sambil menunggu pesawat take off saya membaca-baca majalah yang sudah disediakan di kursi. Tiba-tiba datang penumpang lain menegur saya “Pak maaf Bapak duduknya salah, no kursi saya 15C” karena saya merasa benar dan yakin saya tidak beranjak dari kursi saya. Akhirnya Pramugari datang meminta boarding pas saya, kemudian dia meminta maaf karena adanya system error menyebabkan ada duplikasi nomor kursi. Tidak lama kru darat Garuda datang sambil meminta saya pindah kursi ke 2F. Alamak saya dipindahkan ke Bisnis Class rejeki nomplok nih namanya. Yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa saya yang dipilih untuk duduk di Kelas Bisnis apa karena karena GFF Gold atau karena saya mengambil tiket kelas Y. yang jelas saya benar2 menikmati penerbangan kali ini. Dalam hati saya berbisik buat Garuda sering-sering aja ya system check in-nya error tentunya asal jangan pesawat nya yang error. Bravo Garuda…

Repost from my nukil at : http://www.kompasiana.com/mpermana/mengambil-berkah-dari-sistem-error-check-in-garuda_55294074f17e6114548b457b

Kepungan Banjir Jakarta

Selamat pagi Jakarta

Jakarta pagi ini kembali mendung. Sisa hujan semalam masih basah di jalanan, dari berita di televisi beberapa tempat kembali tergenang air. Ramalan BMKG sebenarnya sudah meramalkan cuaca buruk akan terus berlangsung sampai dengan akhir bulan Januari. Untuk mengantasipasi hal tersebut Pemda DKI telah melakukan berbagai upaya pencegahan seperti normalisasi waduk, pengerukan sungai, hibah dana ke Pemkab Bogor untuk penertiban villa-villa di Puncak, bahkan rekayasa cuaca pun dilakukan. Namun upaya tersebutnampaknya belum berhasil mencegah perkasanya kuasa alam. Upaya Jakarta menggandeng daerah-daerah penyangga sekitarnya, nampaknya tidak semuanya mendapat tanggapan positif. Pemerintah Kabupaten dan Kota Tangerang menolak rencana pembuatan sodetan kali Cisadane dengan alasan upaya tersebut hanya akan memindahkan banjir dari Jakarta ke Tangerang.

Efeknya terjadi banjir dimana-mana, Jakarta dikepung banjir. Darurat Bencana diberlakukan di Jakarta. Semua pihak turun tangan Pemerintah pusat, daerah, lembaga sosial hanya lembaga internasional saja yang belum karena mungkin Pemerintah malu kalo sampai gara-gara banjir harus meminta bantuan Internasional. Kalo sudah seperti ini nampaknya upaya yang dilakukan hanya sia-sia saja, karena banjir sudah menjadi langganan setiap tahun nampaknya kita sebagai warga Jakarta harus bisa pasrah saja terima nasib. Mau pindah juga pindah kemana, sekali memutuskan pindah tentunya bakal mengubah jalan hidup kita seterusnya. Atau kita pasrah saja menunggu relokasi dari Pemerintah DKI sambil berharap bantuan rumah/apartemen gratis dengan kompensasi “ganti untung” atas aset-aset kita sepanjang tidak berdiri di tanah negara tentunya.

Upaya membangun kesadaran seharusnya bisa dilakukan dari individual kita masing-masing, secara sederhana, yok mari kita mulai lagi mendidik anak-anak kita, keluarga kita, lingkunganjangan membuang sampah sembarangan, jangan mendirikan bangunan di bantaran kali, jangan mendirikan rumah di pinggir waduk.. Semangat Jakarta

Repost my nukil at : http://www.kompasiana.com/mpermana/kepungan-banjir-jakarta_551f6245813311706c9df7e5

Terbang bersama Sriwijaya Murah namun Tidak Murahan

Sesaat sebelum memutuskan untuk terbang menggunakan Sriwijaya ada keraguan dalam hati, pertama karena jarak yang akan ditempuh sangat jauh yaitu Jakarta-Jayapura sekitar 6-7 jam di udara dan yang kedua apakah tarif yang dikenakan tergolong murah atau mahal karena perjalanan kali ini bukan tugas kantor. Berdasarkan "grade" dan pengalaman pribadi untuk jalur penerbangan tersebut saya memang lebih merekomendasikan penerbangan Garuda daripada yang lainnya. Tetapi karena perjalanan ini bersifat pribadi tentunya perhitungan ekonomi lebih diutamakan. Setelah mempertimbangkan berbagai hal akhirnya sy memutuskan membeli tiket penerbangan Jakarta -Jayapura PP menggunakan Sriwijaya Air dengan harga kurang dari 3juta rupiah untuk tiket pulang-pergi. Penerbangan pertama Jakarta-Jayapura dengan Sriwijaya SJ580 jam 22.45 WIB dengan perkiraan tiba jam 07.10 WIT dengan sekali transit di Makassar dan penerbangan pulang dengan Sriwijaya SJ583 jam 08.50 WIT dengan perkiraan tiba jam 14.05 WIB transit Biak dan Makassar. Sekitar jam 19.00 saya sudah tiba di terminal 1B Aiport Soekarno Hatta, setelah melalui prosedur rutin check in dan sebagainya akhirnya saya pun tiba di ruang tunggu B5. Prosedur check in Sriwijaya saya rasakan cukup baik dan pelayannya cukup sopan termasuk permintaan khusus untuk memilih seat di koridor, karena kalau saya duduk di seat tengah (B atau E) saya merasa kurang nyaman. Setelah menunggu cukup lama akhirnya sekitar jam 22.30 penumpang Sriwijaya Air tujuan Jayapura dipersilahkan untuk boarding. Begitu melewati garbarata menuju pintu pesawat, saya cukup terkesan dengan sapaan Pramugari, tanda-tanda yang baik nih. Begitu duduk di kursi saya cukup terkejut begitu menyadari ternyata Sriwijaya menggunakan Boeing 737 seri 800 New Generation, karena sebelumnya saya tidak mencari referensi jenis pesawat yang digunakan, level aman ke-2 nih saya pikir. Kejutan berikutnya adalah tawaran permen/candy kepada setiap penumpang yang tentunya nilai plus lainnya buat Sriwijaya. Fligth Attendant Sriwijaya berdasarkan pengamatan saya adalah personil-personil yang sudah cukup pengalaman setidaknya pernah bekerja di maskapai lain hal ini berbeda dengan FA maskapai Li*n yang biasanya diisi "fresh graduate" sehingga pembawaannya kurang sabar dalam melayani customer/penumpang. Selang lebih kurang 20 menit penerbangan ke Makassar, saya dikejutkan dengan sajian snack/makanan kecil dengan menu roti 1 buah, kue basah 1 buah dan air mineral gelas 1 buah. Rasanya cukuplah untuk mengganjal perut bagi penumpang yang belum sempat makan malam. Selesai menikmati sajian snack dan kagum atas keramahtamahan FA Sriwijaya saya pun tertidur. Terjaga menjelang pendaratan di Bandara Hasanuddin Makassar, saya merasakan landing yang cukup halus. Begitu pesawat sandar di garbarata penumpang transit tujuan Jayapura dipersilahkan turun dan melapor dengan pengumuman "tanpa membawa bagasi kabin karena akan melanjutkan penerbangan dengan pesawat yang sama". Saya beri tanda kutip karena untuk maskapai Li*on, dalam kondisi seperti ini penumpang diharuskan membawa seluruh bagasi kabin ke ruang tunggu dengan alasan ganti kru/pesawat. Bisa dibayangkan dalam kondisi tengah malam dalam kondisi ngantuk disuruh membawa turun barang-barang bagasi kabin kemudian naik lagi ternyata begitu didalam masih pesawat yang sama. Keunggulan buat Sriwijaya lagi nih. Setelah menunggu 30 menit, penumpang tujuan Jayapura dipersilahkan kembali naik pesawat, dengan perasaan senang tenang dan nyaman saya kembali naik ke Sriwijaya untuk melanjutkan perjalanan ke Jayapura yang saya yakini akan menjadi pengalaman pertama yang mengesankan terbang bersama Sriwijaya. Maju terus Sriwijaya, semoga menjadi leader penerbangan murah namun tidak murahan.

Repost my nukil at : http://www.kompasiana.com/mpermana/terbang-bersama-sriwijaya-murah-namun-tidak-murahan_5517366fa333117e07b659d9

Sukamu Dukaku

Sejak sekolah lagi di salah satu PTN di kota Bogor saya mulai aktif sebagai pengguna Commuter line (CL) tujuan Bogor. Seminggu sekali saya naik CL dengan rute Jakarta Kota-Bogor. Saya masih menggunakan tiket harian berlangganan belum menggunakan tiket multitrip. Agak merepotkan memang karena kadang harus antri hanya sekedar untuk beli tiket atau refund uang jaminan. Karena starting poin dari stasiun terakhir Jakarta saya masih bisa dapat tempat duduk. Masalah mulai timbul saat mulai memasuki stasiun stasiun ke 3 dst karena penumpang mulai banyak.

Disinilah kita harus mulai belajar berbesar hati karena penumpang mulai berdiri berdesakan. Kalau sesama penumpang lelaki saya biasanya cuek saja, tapi kalau terhadap penumpang perempuan apalagi ibu hamil, orang tua, ibu2 bawa anak saya paling merasa berdosa kalau tidak mempersilahkan mereka duduk. Pergolakan bathin biasanya karena tujuan akhir saya masih jauh dan banyak orang dikiri kanan yang pura-pura tidur atau tidur beneran. Pilihannya hanya 2, ikutan pura-pura tidur atau mempersilahkan mereka duduk.
Tetapi dari pengalaman saya, lebih sering saya mempersilahkan mereka duduk daripada saya pura-pura tidur kecuali saya benar-benar ketiduran.

Disinilah kita diajak belajar berbesar hati. Menghargai wanita, orang tua dan yang lemah.

Sukamu dukaku.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mpermana/commuter-line-sukamu-dukaku_54f79275a33311c27b8b46be

Misteri Angka Dibalik Jatuhnya Lion Air

Semua begitu kaget mendengar berita jatuhnya pesawat Lion Air JT 904 tujuan Bandung – Denpasar hari ini Sabtu 13 April 2013. Yang mengherankan pesawat tersebut jatuh ke laut hanya beberapa meter menjelang ujung landasan, tetapi untungnya semua penumpang yang berjumlah 108 orang semuanya selamat. Padahal menurut pihak Lion sebagaimana dikutip Viva News pesawat tersebut merupakan pesawat baru jenis Boeing 737 Seri 800 New Generation produksi tahun 2012 dalam kondisi layak terbang dengan Pilot yang masih memiliki lisensi aktif.

Jika melihat angka-angka dibalik kecelakaan ini sepertinya layak disimak. Pertama kita lihat tanggal terlebih dahulu : 13-4-13, tanggal dan tahun 13 memiliki arti apa semua tahu, dan bulan angka 4 dalam kepercayaan tertentu memiliki arti juga. Kemudian yang kedua adalah Nomor Flight JT 904 apabila dijumlahkan berjumlah 9+0+4 = 13. Dan yang terakhir adalah jam penerbangan JT 904, berdasarkan penelusuran saya pada website lion JT 904 tujuan Bandung – Denpasar dengan jadwal keberangkatan 10.20 WIB dan jam kedatangan 13.05 WITA, ada angka 13 disitu.

Tapi apapun yang terjadi sebaiknya kita tetap serahkan kepada Yang Diatas, dan penyebab terjadinya kecelakaan sebaiknya kita sama-sama tunggu hasil penyelidikan KNKT. Karena angka adalah angka dengan segala misterinya.
Wallahu’alam bisawab.

Repost from : http://www.kompasiana.com/mpermana/misteri-angka-dibalik-jatuhnya-lion-air_55288d9c6ea83463168b458f

Melihat dunia dari perspektif berbeda


Di lingkungan tempat saya tinggal, sebuah apartemen di daerah jelambar grogol saya biasa parkir motor di parkiran belakang gedung yang dibatasi pagar dengan lingkungan sekitar. Menempel dengan pagar gedung terdapat warung dan lingkungan pemukiman yang sekilas terlihat sempit dan kumuh. Terus terang saya terbiasa pergi pagi-pagi dan berangkat malam sehingga jarang memperhatikan kondisi lingkungan tersebut. Sering terlintas dalam pikiran saya “mungkin disitu jalanannya sempit becek kotor dan rumah-rumahnya kumuh”.

Hingga suatu hari, saya harus berurusan dengan masalah “kependudukan” surat kepindahan domisili dari kampung ke Ibukota. Untuk mengurus kepindahan saya membutuhkan surat pengantar dari RT/RW setempat dan di lingkungan apartemen belum terbentuk kepengurusan RT/RW. Pengurus RT masih bergabung dengan lingkungan sekitar gedung. Ternyata rumah ketua RT berada di samping pagar gedung apartemen tempat dimana saya biasa parkir motor. Hal tersebut menyebabkan saya harus mendatangi rumah ketua RT tersebut dan ternyata seorang “Ibu”.
Rumah Ibu RT persis berada di belakang apartemen, saya mendatangi rumah beliau dengan sepeda motor tua kesayangan saya. Jalan menuju rumah beliau harus memutar dan saya tidak menyangka ternyata jalan lebar dan rumah-rumah bagus. Apa yang saya liat dari sebelah pagar ternyata berbeda dengan yang saya lihat langsung.

Sudut pandang dan perspektif dimana kita berada dalam melihat sesuatu ternyata sangat berbeda dengan jika ketika kita berada langsung di tempat tersebut.
Jadi yang bisa saya petik dari pengalaman ini jangan hanya bisa men-“judge” sesuatu dari perspektif kita tanpa kita mengetahui secara langsung kejadian atau situasi sebenarnya.