Minggu, 22 Juni 2014

Semerawutnya Bandara Raden Inten II Lampung

Begitu menginjakan kaki keluar pintu kedatangan bandara Raden Inten II, wooow puluhan sopir taksi sudah merubung meributi penumpang yang baru keluar. Semua berebut menawarkan jasanya, dalam pikiran saya kenapa ga ada yang mengkoordinir ya? Benar-benar kacau dan semerawut. Begitu orang yang menjemput saya tiba, lebih semerawut lagi melihat parkiran mobil di Bandara ini. Untuk bisa mengeluarkan mobil saja butuh waktu satu jam, benar-benar crowded. Lepas dari bandara alhamdulillah kayak lepas dari lubang jarum. Orang bilang bandara itu cerminan beranda halaman depan rumah kita. Lampung dengan potensi kekayaan alam yang luar biasa tidak mampu membuat bandara yang "layak". Belajar dari kota-kota lain donk, Makassar, Medan, Pekanbaru, Balikpapan adalah contoh bandara modern yang bisa kita banggakan dan layak dicontoh buat Lampung.

Senin, 12 Mei 2014

Kultum Bos Pagi ini : E=mc2

Kultum Bos Pagi ini : E=mc2 Pagi ini dapat jatah kultum dari Bos, istilah kami di ruang kalo dapat pencerahan dari Bos adalah “jatah kultum” mulai dari masalah pekerjaan, politik, keluarga pokoknya segala macam. Karena Bos saya ini termasuk orang “kaya”, kaya dengan pengalaman hidup dan pemahaman spiritualnya termasuk tingkat tinggi. Sehingga sungguh beruntung saya memiliki pimpinan seperti beliau. Isitilah beliau pagi ini adalah teori kecepatan cahaya Albert Einsten, E = mc2, yang beliau sebut sebagai teori “Momentum” (padahal yang dimaksud dengan teori momentum itu kepunyaannya Newton P = mv). Tapi tidak masalah bagi saya yang penting adalah makna dibalik pencerahan ini. E = mc2 Menurut persamaan ini, jumlah maksimum energi yang "dapat diperoleh" dari suatu obyek untuk melakukan kerja aktif adalah massa obyek dikalikan kuadrat dari laju cahaya (wikipedia.org). Dalam konteks Bos, persamaan ini dianalogikan kedalam kondisi kita sehari-hari. Yang dimaksud dengan E adalah Energi tubuh kita, m berarti massa sebagai tubuh kita dan c adalah kecepatan cahaya diartikan dengan kecepatan bergerak kita. Jadi energy tubuh kita diperoleh dari perkalian massa tubuh kita dengan kecepatan dalam bergerak (bekerja) kemudian dikuadratkan. Jadi kesimpulannya semakin cepat kita dalam bekerja atau menyelesaikan pekerjaan akan semakin meningkatkan energy dalam tubuh kita. Saya selalu memaknai dengan positif apa yang disampaikan Bos sebagai energi penyemangat. Bagaimana ada yang bisa merasakan perubahan seperti yang dimaksud dengan Bos saya? Jakarta 13 Mei 2014 10.32 am

Kamis, 08 Mei 2014

Menakar Hati di Jalanan

Jalur pulang kantor seperti biasa, rute kopaja 86 Lebak Bulus-Kota naik dari Slipi jam sudah menunjukan pukul setengah delapan malam. Tempat duduk masih tersedia sehingga bisa duduk sejenak melepas lelah seharian. Kopaja menapaki macetnya jalanan malam, tiba didepan Sipi Plaza anak-anak pekerja jalanan mulai menaiki Kopaja sekedar menjajakan suara untuk sekedar receh dari belas kasihan penumpang. Belum sempat sepeminum teh mereka sudah turun lagi, rupanya mereka keduluan sosok laki-laki bergaya sempoyongan yang hendak menjajakan kenekatan dan suara besarnya untuk menakuti penumpang. Ceritanya dimulai dengan keluarnya dia dari penjara, alasannya daripada dia mencuri atau nyolong lebih baik meminta-minta didalam Kopaja. Selesai bicara panjang lebar mulailah dia membuka tangan dengan nada setengah mengancam ke setiap penumpang. Bagi yang tidak memiliki keberanian relalah sambil menggerutu dalam hati selembar uang kertas dua ribuan beralih ke tangan sang lelaki itu. Setelah mengumpulkan uang lembaran dan recehan, turunlah dia dengan gagah. Langkah yang semula sempoyongan berubah tegap sambil tertawa berjalan menuju penjual makanan. Ikhlaslah kami memberi jika memang selayaknya dia dikasihani. Relalah kami menyisihkan sebagian rejeki jikalah tak disertai kata-kata ancaman. Jakarta oh Jakarta..

Selasa, 06 Mei 2014

berburu kartu kredit

Ketiga kalinya mencoba peruntungan untuk apply Kartu Kredit. Setelah 2 kali mencoba melalui BCA dan BNI yang ga pernah ada jawabannya meski sudah pada tahap wawancara. Kali ini mencoba tawaran CC dari Citibank yang ditawarkan secara online melalui Email. Proses pendaftarannya pun mudah secara online melalui https://www.citibank.co.id/bahasa/landing_page/strategy-refined/thankyou.htm. Dimana terdapat 3 tahapan yaitu : 1) Ajukan aplikasi kartu kredit Citi 2) Kami akan menghubungi dalam 3 x 24 jam 3) Dapatkan Kartu Kredit Citi. Melihat penawaran ini saya sangat tertarik dan mencoba apply permohonan. Setelah melengkapi data secara online, sekitar 3 hari kemudian saya ditelepon dari pihak Citibank yang mengkonfirmasi data-data yang saya ajukan dan beberapa pertanyaan tambahan yang intinya Citibank mengapprove permohonan CC saya dengan akhir pembicaraan 2 hari kedepan akan ada utusan dari Citibank untuk mengantar CC. Saya merasa sangat senang dengan pelayanan Citibank yang sangat cepat. Kemudian tepat pada hari yang dijanjikan, datang utusan Citibank yang membawa amplop tersegel dan bermaksud meminta tambahan dokumen yaitu : fotocopi KTP, NPWP dan bukti SPT Tahunan. Saya berpikir CC bisa saya dapat hari itu juga, ternyata begitu saya buka amplop didalamnya hanya ada formulir permohonan yang harus saya tandatangani dan harus dikembalikan disertai dokumen tambahan dimaksud. Yaah ternyata prosesnya belum selesai, kalo seperti ini berarti masih ada kemungkinan CC saya tidak di approved. Karena berdasarkan perhitungan SPT hanya memperhitungkan Gaji Pokok bulanan, sedangkan tunjangan lain-lain seperti tunjangan kinerja belum masuk dalam SPT. Memiliki CC saat ini untuk saya bukan untuk sekedar gaya-gayaan tetapi sudah menjadi kebutuhan jika kita akan melakukan transaksi secara online baik itu pemesanan hotel, pembelian aplikasi dan lain-lain. mudah-mudahan kali ini permohonan CC saya bisa disetujui pihak Citibank. Amiin.

Doa ku untuk Tuhan tadi Malam

Tuhan tolong jaga orang yang paling saya sayangi Beri selalu dia Kekuatan dan Ketegaran ijinkan kami untuk selalu saling mencintai dengan cara kami Amin..

Cerita Pulang Kampung Bulanan Mei 2014

Kegiatan pulang kampung bulanan kali ini saya bermaksud menyelesaikan beberapa urusan yang sempat tertunda yang hanya bisa dilakukan pada hari kerja sehingga dengan terpaksa saya harus meminta izin satu hari yaitu hari Senin untuk menyelesaikan urusan tersebut. Biasanya kalau pulang kampung saya berangkat dari Jakarta hari Jumat sore/malam dan balik ke Jakarta lagi hari Minggu malam atau Senin pagi. Tapi pola pulkam satu bulan ini mulai berubah karena saat ini setiap Jum’at malam sampai dengan Sabtu sore saya harus kuliah terlebih dulu di Bogor baru bisa pulang ke Cirebon. Setiap Jumat sore dari Jakarta ke Bogor biasanya saya tempuh dengan menggunakan KRL Commuter line, namun karena waktu tempuh dan beban gerbong KA yang luarbiasa menjadikan saya untuk mencoba moda transportasi lainnya yaitu BMW. Sebutan BMW adalah Bus Manggala Wanabakti istilah lain dari teman-teman karyawan Kementerian Kehutanan untuk Bis Jemputan pegawai yang berada di Komplek Gedung Manggala Wanabakti. Dengan menumpang BMW perjalanan agak ringan karena tinggal duduk nyaman sepanjang perjalanan dan turun di halte PMI Bogor terus tinggal jalan selangkah menuju Sekolah Pascasarjana IPB. Waktu kuliah dimulai jam 18.30 malam dan baru selesai jam 22.00 malam. Selesai kuliah biasanya saya menuju Kost harian di Jl. Riau belakang Mesjid Raya atau mencari tebengan tidur di rumah teman. Sabtu paginya mulai jam 08.00 sampai dengan 17.00 saya kembali belajar. Selesai kuliah saya langsung beranjak dari kelas dengan tujuan mengejar KRL jam 18.00 sore karena perhitungan saya paling lambat jam 19.00 malam harus sudah tiba di stasiun Gambir karena tiket KA Argo Lawu ke Cirebon jam 20.00. Menggunakan Angkot 03 dari depan kampus saya tiba di Stasiun Besar Bogor jam 17.30 alhamdulillah sudah ada KRL yang siap berangkat tujuan Stasiun Kota dan saya pun membeli tiket dengan tujuan Stasiun Gondangdia karena KRL sudah tidak berhenti lagi di Stasiun Gambir. Perjalanan ke Gondangdia ditempuh kurang lebih satu jam, begitu KRL berhenti saya langsung mencari ojek untuk ke Stasiun Gambir. Karena buru-buru tidak sempat lagi untuk menawar akhirnya harga 15ribu pun disepakati untuk sampai ke Gambir. Begitu di Gambir rupanya ada KA Cirebon Ekspres jam 18.40 akhirnya tiket KA Argo Lawu yang sudah saya beli saya tukar. Penukaran tiket cukup mudah yang penting maksimal satu jam keberangkatan dipotong 25% dari harga tiket dan ditambah dengan biaya perubahan tiket 15ribu. Jadwal KA Cireks seharusnya jam 18.40 berangkat dan rencana tiba 21.30 di Cirebon, namun karena adanya keterlambatan kereta akhirnya kereta baru berangkat jam 19.30 dan tiba di Cirebon jam 22.00. Alhamdulillah akhirnya bisa sampai di Cirebon, tinggal melanjutkan perjalanan ke rumah menggunakan Elf atau Mikro sebutan orang Cirebon. Selesai melepas rindu dengan anak-anak selama dua hari di rumah dan menyelesaikan beberapa urusan yang sudah terjadwal di hari Senin akhirnya saya harus balik ke Jakarta. Keberangkatan saya ke Jakarta terjadwalkan dengan KA Argo Dwipangga dengan jadwal keberangkatan jam 01.30 pagi. Karena lepas tengah malam akhirnya dari rumah saya diantar orang rumah sampai Stasiun Cirebon. Sampai di Stasiun waktu masih menunjukan jam 01.20 menit, masih ada waktu buat menunggu kereta saya berpikir demikian. Tetapi yang saya heran kenapa KA Bangunkarta yang dijadwalkan berangkat dari Cirebon jam 01.44 koq bisa tiba duluan sedangkan KA Argo Dwipangga yang dijadwalkan jam 01.30 tidak ada berita pemberitahuan sama sekali. Tiba-tiba petugas PT. KA menawarkan kepada penumpang KA Dwipangga yang ingin menumpang KA Bangunkarta dipersilahkan dengan alasan belum ada kejelasan informasi jam berapa KA Dwipangga tiba di Cirebon. Lah iki piye toh, kita selaku konsumen koq ga diberitahukan sebelumnya, tiba-tiba begitu di Stasiun hanya diberi informasi sepihak. Bukannya pada saat reservasi secara online kita sudah memberi informasi nomor telepon dan email kita. Yang lebih parah lagi kursi yang tersedia di KA Bangunkarta hanya ada 3 seat, sedangkan penumpang KA Dwipangga tujuan Jakarta yang mau transfer ada sekitar 10 orang. Solusinya mereka menawarkan gerbong makan, beberapa orang termasuk saya akhirnya memutuskan untuk ikut KA Bangunkarta karena pagi-pagi harus sudah ngantor. Dengan berat hati saya akhirnya mencoba menikmati fasilitas tempat duduk Gerbong makan. Jam 04.30 pagi KA Bangunkarta tiba di Stasiun Gambir, sambil menunggu hari sedikit terang saya menunggu di Lobi stasiun sebelum akhirnya jam 05.30 saya berangkat ke Kantor. Kembali di siklus kesibukan dan kemacetan Jakarta.

Senin, 07 April 2014

Hati-hati Copet di Angkutan Umum

Belajar dari pengalaman hampir kecopetan 3 kali di angkutan umum di Jakarta, saya jadi cukup bisamengenali ciri-ciri pencopet. Berikut ciri-ciri pencopet yang bisa saya ceritakan : 1. Jam operasinya rata-rata pagi hari disaat orang sibuk berangkat bekerja dan kondisi angkutan umum penuh 2. Penampilannya hampir sama, sok necis kayak orang kantoran bawa tas punggung ditaroh didepan tapi biasanya tasnya tipis ga berisi apa2. 3. Berkelompok dengan penampilan hampir sama. 4. Ciri-ciri lain, pada saat kita hendak naik mereka pura-pura berebutan mau turun begitu pula pada saat kita mau turun mereka berebutan pura2 mau ikut turun. 5. Perhatikan jika ada penumpang yang tiba-tiba posisinya berada didepan tiba-tiba pindah ke belakang atau bisa juga bolak-balik depan belakang. Jika dia penumpang biasa ga mungkin berperilaku seperti itu. 6. Posisi tangan mereka pada saat mencopet, tangan yang satu didepan tas tangan yang lain disembunyikan dibelakang tas. Tips untuk menghindari copet : 1. Jangan membawa barang berharga pada saat bepergian naik kendaraan umum 2. Jika membawa tas tangan usaha tetap dipegang didepan kita. 3. Jangan menaruh Handphone di saku celana atau disaku baju depan (biasanya Ibu2) 4. Dompet usahakan simpan ditempat aman jangan di saku belakang celana 5. Untuk tas ransel (daypack/backpack) taruh didepan kita sambil dipeluk dengan dua tangan. Karena biarpun posisi tas didepan kita biasanya mereka cukup cekatan membuka tas kita tanpa diketahui. yang penting hat-hati selalu dengan bawaan kita.
sumber foto : yupazq.blogspot.com