Rabu, 17 Agustus 2016
Melihat dunia dari perspektif berbeda
Di lingkungan tempat saya tinggal, sebuah apartemen di daerah jelambar grogol saya biasa parkir motor di parkiran belakang gedung yang dibatasi pagar dengan lingkungan sekitar. Menempel dengan pagar gedung terdapat warung dan lingkungan pemukiman yang sekilas terlihat sempit dan kumuh. Terus terang saya terbiasa pergi pagi-pagi dan berangkat malam sehingga jarang memperhatikan kondisi lingkungan tersebut. Sering terlintas dalam pikiran saya “mungkin disitu jalanannya sempit becek kotor dan rumah-rumahnya kumuh”.
Hingga suatu hari, saya harus berurusan dengan masalah “kependudukan” surat kepindahan domisili dari kampung ke Ibukota. Untuk mengurus kepindahan saya membutuhkan surat pengantar dari RT/RW setempat dan di lingkungan apartemen belum terbentuk kepengurusan RT/RW. Pengurus RT masih bergabung dengan lingkungan sekitar gedung. Ternyata rumah ketua RT berada di samping pagar gedung apartemen tempat dimana saya biasa parkir motor. Hal tersebut menyebabkan saya harus mendatangi rumah ketua RT tersebut dan ternyata seorang “Ibu”.
Rumah Ibu RT persis berada di belakang apartemen, saya mendatangi rumah beliau dengan sepeda motor tua kesayangan saya. Jalan menuju rumah beliau harus memutar dan saya tidak menyangka ternyata jalan lebar dan rumah-rumah bagus. Apa yang saya liat dari sebelah pagar ternyata berbeda dengan yang saya lihat langsung.
Sudut pandang dan perspektif dimana kita berada dalam melihat sesuatu ternyata sangat berbeda dengan jika ketika kita berada langsung di tempat tersebut.
Jadi yang bisa saya petik dari pengalaman ini jangan hanya bisa men-“judge” sesuatu dari perspektif kita tanpa kita mengetahui secara langsung kejadian atau situasi sebenarnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar